Rabu, 28 Oktober 2009

Chut Nyak Dien’ or ‘Chut Mutia’, Kemalahayati is less popular.

O ya…both are Acehnese women who really knew what ‘the real feminism’ is, swallowed it alive and fought for the pride of Aceh. Destroying every – orang kape (kafir – in Acehnese). Penjajah Belanda, Inggris. Banyak lagi.

But Aceh is really interesting. Not that it has more heroines than other places in this country.

Aceh is also probably the only sultanate in the archipelago ever to have been ruled by Sultanah. I mean not just ‘title’ like in Riau’s Tengku Sultanah (who actually is only honor title, since the sultan is still the sole ruler).

Aceh’s Sultanah is really like that of the King. The sole ruler of the sultanate of Aceh. Pemimpin negeri as well as Pemimpin Perang. So boys..back off…Girls rule!

We recorded that there are five sultanahs (Long Live Inong Aceh!!!): Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Syah Tajul Alam, Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam, Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah and Sri Ratu Kamalat Syah Zinatuddin. They had ruled over Aceh from 1641-1699 or 58 years.

Saking makmurnya Aceh di masa Sultanah itu, Yusuf al-Qadri, ulama utusan dari Mekkah, 
membawa sendiri zakat dari kerajaan Aceh kepada rakyat Mekkah. 
Jadi? Aceh memberi zakat kepada rakyat Mekkah! Luar biasa bukan?

If it were today, Laksamana Kemalahayati (or ‘Keumala Hayati’ in Acehnese writing) would be female answer to balance male dominion of Laksamana Hang Tuah and friends. She lived sometime around 1589-1604 where The Sultan Alauddin Riyad Syah was ruling Aceh.

Laksamana Keumalahayati adalah laksamana terkemuka di dunia saat itu. 
Beliau telah memimpin 100 kapal perang Kerajaan Aceh di masa lalu, 
membawa 2000 perempuan tanpa suami sebagai armada. 
Kuta Inong Bale adalah pangkalan pasukannya yang terletak di Teluk Lamreh Krueng Raya. 
Bersama pasukannya itu ia berhasil membunuh Cornelis de Houtman dan menawan pasukkannya. 
Tidak salah jika Sultan Alaudin Riyad Syah Saidi Almukammil memilih Keumalahayati. 
Perempuan sumber inspirasi rakyatnya ini telah berjuang keras untuk Aceh, untuk Indonesia, 
untuk Asia dan untuk dunia. Pada masa itu beliau telah lulus Mahad Baitul Maqdis, akademi militer 
dengan instruktur para tentara dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Ibu ini tidak hanya Laksamana 
atau panglima perang, tetapi juga diplomat dan perunding yang handal. Beliau telah membawa 
harga diri Aceh saat tegas berunding dengan Komisaris Belanda Gerard de Roy atau dalam 
perundingan perdagangan dengan Sir James Lancaster dari Inggris, dan dengan utusan negeri-negeri lainnya. 
Semua menguntungkan Aceh.

The film was shot in Pelabuhan Ratu, Sukabumi, WJ. And they really erected those ‘Rumoh Aceh’ to bring the setting into the way it was back then. Three languages were used in the drama: Bahasa baku, Melayu and Aceh. (At least in some words such as ‘Lon’ ‘Ngon’– ‘Peu haba’ ).

The Kementerian Pemuda Dan Olahraga is producing the drama, trying to give the next Hari Pahlawan (November 10) a life, I guess.

Well, these days…who would care if there is still Hari Pahlawan left?

So sad but that’s what is happening.

Padahal…

“Bangsa Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Pahlawannya”

2 komentar:

more tips mengatakan...

nice post... i have some tips for u

Aceh Top News mengatakan...

thanks, tell me it'all about what?

Poskan Komentar