Sabtu, 17 Oktober 2009


BANDA ACEH - Meski Qanun Wali Nanggroe (WN) telah disahkan DPRA pada 14 September 2009 lalu, kepulangan Deklarator GAM, Dr Tgk Hasan Muhammad Di Tiro (84) untuk kedua kali ini sama sekali tidak berkaitan qanun tersebut, apalagi menduduki posisi sebagai WN yang masih kontroversi tentang kewenangannya itu. Mantan Perdana Mentri GAM, Malik Mahmud menyampaikan hal tersebut usai acara penyambutan kepulangan Hasan Tiro bersama rombongan. Acara penyambutan di rumah kontrakan yang telah dipersiapkan Komite Peralihan Aceh (KPA) untuk Hasan Tiro di Jalan Pemancar, Lamteumen, Banda Aceh.
Rumah berlantai dua itu telah dipersiapkan KPA untuknya selama setahun. KPA mengontrak rumah tersebut Rp 75 juta untuk setahun. “Tidak ada kaitan dengan Qanun Wali Nanggroe. Kepulangan Wali, murni untuk saweu gampong. Setelah 30 tahun mengasingkan diri di luar negeri, beliau ingin bersilaturrahmi dengan saudaranya-saudaranya dan masyarakat Aceh. Kepulangan pertama, 11 Oktober 2008, beliau hanya dua minggu di Aceh, jadwal itu sangat padat dan singkat,” kata Malik.

Didampingi mantan Menteri Kesehatan GAM, dr Zaini Abdullah, Malik mengatakan kemungkinan Hasan Tiro akan menetap beberapa bulan di Aceh. Sedangkan agenda diatur sesuai keadaan Hasan Tiro, termasuk jadwal memberikan briefing (pengarahan) kepada pihak KPA yang sudah terpilih anggota DPRA (2009-2014). “Untuk dua hari ini beliau istrahat di rumah. Jadwal lainnya nanti diatur,” kata Malik. Menurut Malik, salah satu pesan politik yang sangat diharapkan Hasan Tiro adalah, pemerintah Aceh, baik eksekutif, maupun legeslatif agar menjaga perdamaian. “Selain itu pemerintah harus bersih dari KKN. Dengan demikian diharapkan masyarakat Aceh sejahtera,” ujar Malik.

Menurutnya, meski selama ini masih ada gangguan keamanan, secara keseluruhan Aceh telah damai. Proses pelaksanaan UUPA, sebagai amanah MoU Helsinki berjalan baik. “Tetapi itu semua masih proses, ke depan diharapkan pelaksanaan poin-poin UUPA berjalan lebih baik lagi demi kesejahteraan masyarakat Aceh,” harap Malik.

Dijemput
Begitu tiba, Hasan Tiro, disambut oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan istrinya Darwati A Gani serta rombongan lainnya di tangga pesawat. Selanjutnya, Hasan Tiro menaiki mobil Mazda dikemudikan oleh Ketua KPA, Muzakkir Manaf.

Dengan dipandu oleh mobil forijder dari kepolisian, sekira pukul 15.00 WIB, Hasan Tiro bersama rombongan tiba di rumah kawasan Lamteumen. Saat turun dari mobil, Hasan Tiro selalu didampingi Malik Mahmud. Dia tersenyum dan menyalami petinggi-petinggi KPA, seperti Ketua DPRA sementara, Hasbi Abdullah.

Kemudian, Hasan Tiro dan rombongan memasuki rumah. Di dalam rumah itu, Hasan Tiro, didampingi Malik Mahmud dan Zaini Abdullah dipeusijuek. Kemudian, acara ditutup pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta doa yang dipimpin ulama Aceh, Tgk H Muhibuddin Waly.

Bupati Bireuen Nurdin AR, Bupati Pidie Jaya Gade Salam, dan Walikota Sabang Munawarliza, beserta undangan dan ratusan warga lainnya hanya bisa menyaksikan prosesi peusijuek lewat layar monitor elektronik di bawah tenda di luar rumah. Kegiatan itu dikawal pasukan pengaman KPA berpakaian seragam hitam, termasuk sejumlah pasukan Inong Balee, sedangkan polisi ikut mengamankan di jalan tak jauh dari rumah itu.

0 komentar:

Poskan Komentar