Selasa, 15 September 2009

MENYAMBUNG

catatan yang tercecer minggu lalu, kali ini saya akan menukil bagaimana kiprah Habib Abdurrahman selama berada di tanah Hijaz. Habib Abdurrahman Az Zahir (1832-1896) yang masuk ke Aceh pada tahun 1864, atas rekomendasi Sultan Johor ini, sempat kawin dengan janda Sultan Sulaiman Syah, ibunda dari Sultan Alaidin Mahmudsyah dan menjadi perdana menteri dan menteri luar negeri Kerajaan Aceh Darussalam, kembali ke tanah Hijaz setelah menyerah kepada Belanda pada tanggal 13 Oktober 1878M. Dia lalu menerima pensiun dari pemerintah Belanda 10.000 dollar per bulan..dan kemudian dia hidup dalam keadaan tenang di sana.

Di Jeddah, Abdurrahman atas kepiawaiannya diangkat menjadi Shaikh es Sadat (syeikh para sayyid) oleh Gubernur Turki di Mekkah pada tahun 1886. Dia sangat bersahabat akrab dengan Konsul Jenderal Belanda di Jeddah J.A. Kruyt. Akan tetapi dia sangat dibenci oleh orang Aceh yang bermukim di sana. Seperti Tuanku Muhammad Saleh Asyi dan Syeikh Abdul Gani Asyi. Kedua orang ini memiliki pengaruh yang sangat kuat di kalangan masyarakat Aceh di Mekkah saat itu.

Setahun setelah menyerah dan berangkatnya Habib Abdurrahchman ke Jeddah, pada tahun 1879 Panglima Tibang, Syahbandar Kerajaan Aceh ikut menyusul menyerah dan memihak Belanda . Padahal kepada kedua mareka tanggungjawab diplomasi Aceh dibebankan selama ini sejak zaman pemerintahan Sultan Ibrahim Mansur Syah, Sultan Alaidin Mahmud Syah dan Muhammad Daud Syah. Mereka sering dikirim keluar negeri untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan Negara-negara sahabat dan mencari dukungan internasional dalam perselisihan Aceh dengan Belanda.

Menyerahnya dua diplomat ulung ini menyebabkan Gebernur Hindia Belanda Van Lansberge di Jakarta serta panglima perangnya di Aceh Van der Heijden (Jenderal Buta Siblah) beranggapan bahwa perlawanan rakyat Aceh telah padam. Tetapi di lapangan perang melawan Belanda terus bekecamuk dan munculnya tokoh tokoh pejuang baru di Aceh seperti Tuanku Hasyim, Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Tengku Imum Lueng Bata, dan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abe. Bahkan dalam musyawarah di Gunung Biram, Seulimum menyepakati untuk melibatkan ulama secara resmi untuk dapat memobilisasi perang melawan Belanda. Pada saat itulah tampil ulama ulama kharismatik Aceh, seperti Tgk Muhammad Saman Tiro, Tgk Syech Abdurrahim di Batee Iliek, Tgk Syik Di Awe Geutah, Tgk Syik di Paya Bakong, Tgk Syik Seupot Mata, Tgk Syik di Samarkilang, Tgk Syik Di Barat, dan ulama-ulama lainnya yang mungkin harus ditulis dalam tulisan lainnya. Bahkan Tgk Muhammad Saman Tiro berhasil menduduki Seulimum dan memaksa Belanda mengisolasi diri dalam lini konsentrasi di Banda Aceh yang dijaga ketat oleh serdadu Belanda dan orang bayarannya dan dibangun Benteng pertahanan kuta Raja antara Lamnyong, Lambaro Kaphe, Keutapang dan Lhoknga.

Di pihak lain, Rakyat Belanda sendiri mengecam perang yang dilancarkan pemerintahannya di Aceh yang berbilang tahun tak kunjung usai. Padahal janji awalnya bisa diselesaikan dalam masa tiga bulan. Akibatnya Keuchenius dari kelompok anti Revolusi (Calvinist) mengutuk serangan Belanda ke Aceh pada tahun 1880. Bahkan Keuchenius mengatakan bahwa perang ini sebagai salah satu perang yang paling mengerikan dan tidak ada dasarnya sama sekali yang pernah dilancarkan di India Belanda (Reid: 1969).

Pada saat genting itulah kementrian Daerah Jajahan Belanda mengirim DR Christian Snouck Hurgronje pada tahun 1884. Dia lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda, alumni Universitas Leiden jurusan Teologi dan sastra Arab. Dengan berbekal kemampuan bahasa Arab dia dikirim ke Mekkah untuk memantau kegiatan orang Aceh di sana dan hubungannya dengan pan-Islamisme. Untuk bisa masuk ke kota Mekkah dia mengganti namanya menjadi Abdul Ghafur Al Hulandi. Menurut sejarah orang pertama yang ditemuinya di sana atas rekomendasi kementrian jajahan adalah Habib Abdurrahman Az Zahir. Dan ini diakui sendiri oleh Snouck dalam cacatan nasihat nasihatnya semasa kepegawaiannya (Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje semasa Kepegawaiannya :1990)..

“Sayyid telah menyusun nota singkat bagi saya yang berisi uraian tentang pandangannya tentang Aceh. Menurut pendapat saya yang rendah hati , nota yang dimaksud itu akan jauh lebih rinci dan memuat data yang berguna andaikata nota tersebut disusun untuk kepentingan pemerintah Agung (Belanda) “

Dari hasil pertemuannya dengan Habib ini, Snouck mendapatkan saran bagaimana ‘menaklukkan’ Aceh. Di antara saran tersebut adalah agar Belanda membentuk administrasi pemerintahan yang baru di Aceh yakni mengangkat seorang muslimin yang mempunyai pemikiran yang cemerlang, berasal dari keturunan ninggrat dan faham akan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan Aceh dan bertindak sebagai wali pelaksana hukum agama dan hukum keduniaan. Wali inilah yang menjadi tempat bertanya bagi penduduk dalam segala urusan dan kepentingannya.

Saya menganggap saran itu pada prinsipnya ingin memisahkan otoritas agama dan kekuasaan di Aceh, supaya mudah diatur di dalam kehidupan agama rakyat Aceh saat itu. Karenanya Habib memunculkan istilah wali yang hanya mengurusi persoalan agama saja. Karena kerajaan Aceh dipandang telah ditaklukkan, namun semangat menentang Belanda masih menggelora. Agaknya, saran ini ingin mengatakan bahwa ulama Aceh harus dipimpin oleh seseorang yang dapat dipercayai oleh Belanda. Di dalam hal ini, Habib sendiri menganjurkan agar dia ditetapkan sebagai Wali pertama bagi orang Aceh saat itu. Saran saran ini diserahkan pada Snouck pada tanggal 8 Muharram 1302 H (Oktober 1884). Baru pada tanggal 26 Juli 1888 Snouck menyampaikan saran Habib ini kepada Menteri Daerah Jajahan Pemerintah Belanda Mr L.W.C. Keuchenius.

Pertualangan Snouck di tanah Hizaz terbongkar, sewaktu dia lagi mengambil air wudhuk dan Shalat di Mesjidil Haram, setelah keluarnya berita tentang keberadaan dirinya di Mekkah di salah satu surat kabar di Prancis, akibatnya pemerintah Turki di Hijaz mengusirnya pada tahun 1885 sebelum dia sempat melaksanakan ibadah haji. Akhirnya Snouck juga menawarkan diri untuk melakukan penelitian di Aceh agar bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Aceh dan cara penaklukkannya. Hasil penelitiannya telah dibukukan yang berjudul “Atjeheers” dan “de Gajoland” dan sekarang nasihat-nasihat mengenai Aceh bisa dibaca juga dalam kumpulan nasihat nasihat C Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda (1889-1936) yang telah dipublikasi ulang oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) atas kerjasama Universitas Negeri Leiden, Belanda dengan Departemen Agama Republik Indonesia.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik dari perjalanan sejarah Habib dan Snouck. Dapat kita lihat bahwa kendati Habib berada di Mekkah, dia tetap ingin melibatkan dirinya di Aceh, melalui pintu kekuasaan Belanda. Hal ini terlihat walaupun ide Wali ini ditolak oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi peran Habib tidak dapat diabaikan walaupun di berada di Mekkah. Snouck yang berpura-pura sebagai Muslim yang taat, juga harus melakukan beberapa penyamaran untuk menjalankan misi kolonialnya di Aceh. Kedua tokoh ini, menurut hemat saya telah menggunakan agama dan rakyat Aceh atas bagian dari kepentingan pribadi mereka. Saya dapat memastikan bahwa sikap dan aktivitas Snouck dan Habib Abdurrahman masih dapat kita lihat sekarang di Aceh. Saya memandang bahwa kasus mengenai siapa yang menjadi Wali Aceh saat ini semoga bukan dari hasil sejarah “bisik-bisik” seperti yang dilakukan oleh Habib terhadap Snouck di Mekkah***

* Penulis; peminat sejarah dan budaya Aceh.

0 komentar:

Poskan Komentar